Hasil Tracer Study Magister Sastra UGM untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

Yogyakarta — Hasil tracer study dan survei kepuasan pengguna lulusan menjadi dasar evaluasi dan peningkatan kualitas pembelajaran di Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Hasil evaluasi tersebut dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam peninjauan kurikulum, penyusunan rencana kegiatan tahunan, serta penguatan kompetensi lulusan agar selaras dengan kebutuhan dan perkembangan dunia kerja.

Evaluasi ini merangkum lima sumber data, yakni Tracer Study UGM 2023, 2024, 2025, dan 2026, serta Survei Kepuasan Pengguna Lulusan yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Sastra. Data tersebut mencakup lulusan dari berbagai tahun kelulusan dan tanggapan dari 43 atasan atau instansi pengguna lulusan.

Pengumpulan data tracer study dilaksanakan secara berkala terhadap lulusan. Hasilnya kemudian diolah dan dibahas dalam rapat program studi bersama dosen pengampu mata kuliah terkait untuk mengidentifikasi aspek pembelajaran yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan.

Masa Tunggu Kerja Relatif Singkat

Salah satu temuan utama menunjukkan bahwa lulusan Magister Sastra UGM memiliki masa tunggu memperoleh pekerjaan yang relatif singkat. Berdasarkan data lulusan 2022–2024, rata-rata masa tunggu berada pada kisaran 2,6 hingga 3 bulan.

Proporsi lulusan yang memperoleh pekerjaan dalam waktu enam bulan setelah lulus juga menunjukkan tren peningkatan, dari 80 persen pada lulusan 2022 menjadi 89 persen pada lulusan 2024. Sebagian besar responden bahkan telah bekerja sebelum menyelesaikan studi. Kondisi ini mencerminkan karakteristik mahasiswa program magister yang umumnya telah memiliki pengalaman kerja ketika menempuh pendidikan.

Dari sisi kesesuaian bidang pekerjaan dengan bidang studi, data juga memperlihatkan perkembangan positif. Pada lulusan 2024, sebanyak 74 persen responden melaporkan tingkat kesesuaian yang tinggi, meningkat dari 59 persen pada lulusan 2023. Sementara itu, proporsi lulusan dengan tingkat kesesuaian rendah turun dari 14 persen menjadi 5 persen.

Perkembangan tersebut sejalan dengan penguatan mata kuliah pilihan berbasis minat yang mulai diterapkan dalam kurikulum terbaru. Meski demikian, hubungan antara perubahan kurikulum dan peningkatan kesesuaian bidang kerja masih perlu diamati melalui evaluasi pada periode berikutnya.

Penguatan Kompetensi Terapan dan Bahasa Asing

Selain memetakan kondisi lulusan di dunia kerja, tracer study mengevaluasi penguasaan 25 kompetensi pada saat lulus dan saat survei dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah kompetensi masih memerlukan perhatian, terutama data analytics, project management, negosiasi, kemampuan bekerja di bawah tekanan, dan manajemen waktu.

Beberapa kompetensi tersebut menunjukkan perkembangan yang relatif kecil setelah lulusan menyelesaikan studi. Penguasaan data analytics, misalnya, hanya meningkat dari skor 3,91 menjadi 3,96 pada skala 1–5. Sementara itu, skor project management tidak mengalami perubahan, yakni tetap 4,09.

Kemampuan bahasa Inggris juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat. Lulusan memberikan skor 4,13 untuk kemampuan tersebut pada saat lulus, dengan peningkatan menjadi 4,16 saat survei dilakukan.

Temuan ini selaras dengan hasil Survei Kepuasan Pengguna Lulusan. Dari tujuh aspek kemampuan yang dinilai, kemampuan berbahasa asing memperoleh persentase penilaian “sangat baik” terendah, yaitu 67,44 persen. Sebaliknya, aspek pengembangan diri memperoleh penilaian “sangat baik” tertinggi, sebesar 93,02 persen.

Meskipun seluruh aspek memperoleh penilaian baik atau sangat baik dan tidak ada penilaian kurang, kesenjangan tersebut menjadi salah satu dasar bagi program studi untuk memperkuat pembelajaran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.

Pembelajaran Berbasis Pengalaman Menjadi Perhatian

Hasil tracer study juga menunjukkan adanya perbedaan penekanan antara metode pembelajaran berbasis kelas dan metode berbasis pengalaman. Diskusi memperoleh skor tertinggi, yaitu 4,66, disusul perkuliahan dengan skor 4,45. Sementara itu, metode pembelajaran berbasis pengalaman memperoleh skor lebih rendah, yakni magang sebesar 2,80, praktikum 3,11, dan kerja lapangan 3,18.

Rendahnya penekanan pada metode berbasis pengalaman tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kebutuhan penguatan kompetensi terapan dan manajerial. Untuk merespons temuan ini, program studi merencanakan pelibatan mahasiswa dalam penelitian dosen dan kepanitiaan kegiatan ilmiah, penambahan komponen pengelolaan proyek dalam mata kuliah metodologi, serta pengenalan perangkat pengolahan data dalam perkuliahan metode penelitian.

Program studi juga berencana membuka kegiatan lapangan terstruktur melalui mata kuliah kajian tradisi lisan dan filologi. Selain itu, penjajakan kerja sama dengan lembaga kebudayaan dan penerbitan akan dilakukan untuk memperluas kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman praktis.

Perluasan Informasi Karier dan Jejaring Alumni

Dalam aspek transisi menuju dunia kerja, Tracer Study 2026 mengidentifikasi keterbatasan informasi lowongan sebagai kendala yang paling banyak dilaporkan. Dari 39 responden yang menjawab pertanyaan tersebut, 28,21 persen menyebut terbatasnya informasi lowongan kerja sebagai hambatan. Sebanyak 23,08 persen lainnya menyatakan minimnya tawaran pekerjaan yang ditujukan bagi lulusan program studi.

Kendala lain yang ditemukan adalah kurangnya pengalaman kerja, yang dilaporkan oleh 17,95 persen responden. Sementara itu, 15,38 persen menyatakan tidak mengalami kendala dalam memperoleh pekerjaan.

Temuan tersebut mendorong program studi untuk memperkuat akses informasi karier dan jejaring profesional. Rencana tindak lanjut yang disusun meliputi pembukaan kanal informasi lowongan kerja dan beasiswa studi lanjut, penyelenggaraan forum berbagi pengalaman alumni secara berkala, serta pengenalan profil lulusan kepada lembaga kebudayaan, penerbitan, dan perguruan tinggi mitra.

Di sisi lain, manfaat studi yang paling banyak dirasakan lulusan adalah peningkatan cara berpikir dan kemampuan mengambil keputusan, sebagaimana disampaikan oleh 29 dari 49 responden. Manfaat berikutnya adalah kemudahan memperoleh atau menciptakan pekerjaan, dengan 11 responden, serta kesempatan melanjutkan studi, dengan 10 responden.

Temuan ini menunjukkan bahwa nilai pendidikan di Magister Sastra tidak hanya berkaitan dengan peluang kerja, tetapi juga dengan pengembangan kapasitas intelektual dan kemampuan mengambil keputusan.

Evaluasi Berkala sebagai Dasar Perbaikan

Berdasarkan keseluruhan temuan, Program Studi Magister Sastra menetapkan sejumlah prioritas perbaikan, meliputi penguatan kemampuan bahasa asing, peningkatan kompetensi terapan dan manajerial, perluasan pembelajaran berbasis pengalaman, penguatan pembimbingan akademik, serta pengembangan akses informasi karier dan jejaring alumni.

Upaya penguatan bahasa asing akan dilakukan melalui penambahan sumber bacaan primer berbahasa asing dalam mata kuliah teori, penerapan tugas akhir mata kuliah wajib dalam bahasa Inggris, serta pendampingan penulisan artikel berbahasa Inggris menjelang penyusunan tesis.

Sementara itu, pembimbingan akademik sejak semester pertama akan diperkuat untuk membantu mahasiswa memilih mata kuliah dan menentukan topik tesis yang selaras dengan rencana karier. Langkah ini diharapkan dapat semakin meningkatkan kesesuaian antara bidang studi dan pekerjaan lulusan.

Pelaksanaan perbaikan akan dipantau melalui tracer study dan survei pengguna lulusan pada periode berikutnya. Program studi juga mencatat sejumlah keterbatasan data, termasuk jumlah responden yang berkisar antara 35 dan 49 orang per tahun, belum tersedianya data tahun kelulusan alumni dalam survei pengguna lulusan, serta penggunaan penilaian kompetensi berbasis laporan diri.

Dengan memanfaatkan hasil tracer study secara berkala, Program Studi Magister Sastra UGM berupaya memastikan bahwa evaluasi pembelajaran tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi berlanjut menjadi langkah perbaikan yang terukur. Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan bidang sastra.

 

 

Penulis: Khotibul Umam

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*