Malam Inisiasi Magister Sastra: Dari Puisi hingga Teatrikal

Malam Inisiasi mahasiswa baru Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menjadi ruang perjumpaan yang tidak sekadar memperkenalkan kehidupan akademik, tetapi juga menghadirkan ekspresi seni yang spontan, personal, dan sarat makna.

Mengusung tema “Antara Kata dan Kita: Sebuah Cerita yang Ditulis Bersama”, kegiatan yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, Sleman, tersebut diikuti mahasiswa baru Magister Sastra semester genap Tahun Akademik 2026/2027.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan Ketua Program Studi Magister Sastra, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.. Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan materi mengenai filosofi dan nilai-nilai ke-UGM-an yang disampaikan Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D. of Arts.

Kegiatan juga memperkenalkan sejumlah agenda akademik Magister Sastra, di antaranya Academic Student Networking (ASN) dan International Dissemination.

Namun, salah satu bagian yang paling menonjol dalam malam inisiasi tersebut adalah penampilan seni mahasiswa. Beragam bentuk ekspresi ditampilkan dengan pendekatan sederhana, tanpa kesan pertunjukan yang terikat oleh kemewahan panggung maupun fasilitas pertunjukan formal.

Alya tampil membawakan lagu “Rayuan Perempuan Gila” dari Nadin Amizah. Deni menghadirkan musikalisasi puisi yang ditulisnya sendiri. Sementara itu, Chaca menyampaikan cerita personal melalui storytelling dalam bahasa Inggris.

Fajri kemudian membacakan puisi, disusul Eloi yang menampilkan pertunjukan tari. Sebagai penutup, Adit, Nurdin, Riki, dan Veto menghadirkan pertunjukan teatrikal yang mengangkat beragam persoalan, mulai dari isu lingkungan hingga politik. Pertunjukan tersebut dipadukan dengan lantunan syair yang menguatkan suasana dan pesan yang disampaikan.

Keragaman penampilan tersebut memperlihatkan bahwa sastra dan seni tidak hanya hadir melalui karya tertulis, tetapi juga melalui tubuh, suara, musik, gerak, dan pengalaman personal. Para mahasiswa menjadikan panggung sederhana sebagai ruang untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan gagasan.

Dalam tulisannya soal acara ini, Aprinus menyebut seni radikal sebagai praktik kesenian yang tidak berorientasi pada posisi politik maupun ekonomi. Seni, dalam pengertian tersebut, hadir sebagai ekspresi bebas dengan semangat persahabatan.

Ciri lainnya adalah tidak adanya sirkulasi uang dalam praktik kesenian. Seniman tidak dibayar dan penonton tidak membayar. Kegiatan seni berlangsung bukan untuk mengakumulasi keuntungan, tapi sebagai bentuk ekspresi.

Menurut Aprinus, seni juga dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap solidaritas komunitas. Kesenian menjadi cara untuk memperlihatkan rasa persaudaraan, kasih sayang terhadap sesama, sekaligus menunjukkan kepribadian seseorang.

“Keberanian untuk membebaskan diri dari itu adalah bentuk dari radikalisasi kehidupan itu sendiri,” tulisnya.

Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang menempatkan kesenian dalam ruang-ruang khusus yang administratif dan fasilitatif. Dalam kondisi tersebut, seni yang pada mulanya dapat menjadi bentuk perlawanan justru berpotensi berubah menjadi tontonan komersial dan komoditas.

Karena itu, bagi Aprinus, seni radikal yang “nol rupiah” merupakan bentuk resistensi yang otentik. Puisi, prosa, dan sastra dapat hadir tanpa kooptasi, motif, maupun kepentingan tertentu. Yang tersisa adalah pengalaman estetik, kekaguman, dan ketertegunan.

Pengalaman tersebut ia temukan dalam penampilan mahasiswa Magister Sastra FIB UGM pada malam inisiasi 28 Agustus 2026.

Bagi Aprinus, kemampuan menampilkan pertunjukan tentu membutuhkan latihan. Namun, ada bagian tertentu dari seni yang tidak dapat diperoleh hanya melalui latihan teknis.

“Yang tidak bisa dilatih adalah menghadirkan ruh, karakter pribadi, dan rasa yang dalam,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas penampilan mahasiswa baru Magister Sastra. Di tengah suasana inisiasi yang mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan akademik barunya, seni hadir sebagai ruang untuk menunjukkan karakter, pengalaman, keberanian berekspresi, dan solidaritas.

Malam inisiasi pun tidak berhenti sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Melalui penampilan sederhana yang lahir dari para mahasiswa sendiri, malam tersebut menjadi semacam panggung bersama di mana kata, tubuh, suara, dan gagasan bertemu dalam sebuah cerita yang benar-benar ditulis bersama.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*