Yogyakarta – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan “Mangayubagya Wisudawan/Wisudawati Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2025/2026” pada Rabu (22/7) di Auditorium Gedung Poerbatjaraka FIB UGM. Acara tersebut menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan studi, sekaligus menghadirkan kisah inspiratif dari para wisudawan. Di antaranya ialah Nabillah Faisal Azzahra, lulusan pertama Program Magister Sastra melalui skema Fast Track, serta Wanda Andres Saputra, salah satu lulusan tercepat Program Magister Sastra.
Bagi Nabillah, melanjutkan studi melalui Program Fast Track merupakan langkah yang berangkat dari kecintaannya terhadap kesusastraan Jepang. Alumni Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM angkatan 2021 tersebut melanjutkan studi ke Program Magister Sastra pada 2024 setelah diperkenalkan dengan program tersebut oleh dosen pembimbing akademiknya.
“Saya senang membaca dan mengkaji karya sastra Jepang, terutama mencoba memahami berbagai fenomena sosial, budaya, maupun isu-isu yang diangkat di dalamnya melalui berbagai pendekatan teori. Ketika dosen pembimbing akademik memperkenalkan Program Fast Track, saya merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk memperdalam minat tersebut sekaligus melanjutkan studi dengan lebih efisien,” ujarnya.

Memasuki jenjang magister, Nabillah merasakan perubahan ritme belajar yang menuntut kemandirian lebih tinggi. Ia harus lebih banyak membaca literatur, berpikir kritis, serta membangun argumentasi akademik yang kuat. Baginya, pengalaman tersebut justru menjadi tantangan yang menyenangkan karena membuka banyak perspektif baru dalam kajian sastra.
“Awalnya saya sempat merasa kaget karena teori dan metodologi penelitian dipelajari jauh lebih mendalam. Namun, di situlah letak hal yang paling menarik. Setiap mata kuliah membuka cara pandang baru dan membuat saya semakin menikmati proses belajar,” tuturnya.
Sebagai bagian dari angkatan pertama Program Fast Track Magister Sastra, Nabillah juga harus menyusun strategi belajar secara mandiri karena belum memiliki referensi dari kakak tingkat yang pernah menjalani program serupa. Meski demikian, ia menilai Program Fast Track memberikan banyak manfaat, mulai dari efisiensi waktu dan biaya hingga kesempatan mempertahankan ritme belajar sejak jenjang sarjana.
“Program Fast Track memang memiliki tantangan karena ritme perkuliahannya cepat dan padat. Namun, program ini juga memberikan banyak keuntungan bagi mahasiswa yang memang sudah ingin melanjutkan studi. Saya juga semakin yakin bahwa saya ingin berkarier sebagai akademisi apabila ada kesempatan,” katanya.
Sementara itu, kisah inspiratif juga datang dari Wanda Andres Saputra, lulusan Program Magister Sastra konsentrasi Sastra Inggris yang berhasil menyelesaikan studi sebagai salah satu lulusan tercepat. Wanda mengawali studi magisternya pada Februari 2025 dengan tujuan memperdalam kajian sastra Inggris sekaligus mempersiapkan diri menjadi akademisi.
Meski menyandang predikat lulusan tercepat, Wanda mengaku tidak pernah menjadikan kecepatan lulus sebagai target utama.

“Di awal perjalanan perkuliahan saya tidak memiliki target menjadi lulusan tercepat ataupun menjadi yang terbaik. Saya hanya berfokus kepada riset apa yang sedang dibutuhkan dan harus segera diselesaikan. Karena itu, saya sangat bahagia dan tidak menyangka bisa menjadi salah satu lulusan tercepat,” ungkapnya.
Selama menjalani studi, Wanda menyelesaikan seluruh mata kuliah pada dua semester pertama. Memasuki semester ketiga, ia sepenuhnya memusatkan perhatian pada penyelesaian tesis. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai staf akademik bahasa Inggris dan tutor TOEFL ITP, ia tetap meluangkan waktu setiap hari untuk menulis tesis secara konsisten.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan studi tepat waktu tidak ditentukan oleh strategi yang rumit, tetapi oleh konsistensi dan fokus terhadap bidang keilmuan yang ingin ditekuni.
“Tidak ada strategi yang spesial. Saya hanya berfokus kepada keilmuan yang ingin saya dalami. Saya menyicil tesis setiap hari sebelum bekerja, saat jam istirahat, hingga malam hari. Yang terpenting adalah menjaga ritme dan tetap konsisten,” jelasnya.
Perjalanan tersebut juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Wanda mengaku sempat beberapa kali mengubah judul penelitian dan menyesuaikan teori sebelum akhirnya menghasilkan tesis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh studi magister agar tidak hanya berorientasi pada kelulusan cepat, tetapi juga memiliki arah keilmuan yang jelas.
“Fokuslah pada bidang yang benar-benar ingin didalami. Ketika kita tahu ingin menjadi ahli dalam bidang apa, proses belajar akan terasa lebih terarah dan studi pun dapat diselesaikan secara efektif tanpa mengesampingkan kualitas akademik,” pesannya.
Baik Nabillah maupun Wanda sepakat bahwa keberhasilan menyelesaikan studi tidak terlepas dari dukungan para dosen pembimbing dan keluarga. Keduanya menyampaikan apresiasi kepada sivitas akademika FIB UGM yang telah mendampingi proses belajar mereka, sekaligus kepada keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungan sepanjang perjalanan akademik.
Melalui kisah dua lulusan tersebut, FIB UGM menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendukung mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya. Program Fast Track membuka peluang bagi mahasiswa mempercepat jenjang pendidikan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran, sementara capaian lulusan tercepat menjadi bukti bahwa fokus, konsistensi, dan semangat belajar merupakan bekal penting dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Kisah Nabillah Faisal Azzahra dan Wanda Andres Saputra diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan keilmuan, menghasilkan riset yang berkualitas, serta memberikan kontribusi bagi dunia akademik dan masyarakat.