Mahasiswa Magister Sastra UGM Teliti Sistem Numerik Abajadun dalam Tradisi Manuskrip Melayu dan Jawa di SEMALU IV 2026

BANGI, SELANGOR — Tiga mahasiswa Magister Sastra, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Priyo Joko Purnomo, M. Aufal Ghufron, dan Maulana Nurul Izza, berpartisipasi sebagai pemakalah dalam Seminar Antarabangsa Manuskrip Melayu ke-4 (SEMALU IV) 2026.

Dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Pusat Penyelidikan Manuskrip Alam Melayu (PPMAM), Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), tersebut, ketiganya mempresentasikan kajian berjudul “Meramal Keberuntungan: Dinamika Sistem Numerik Abajadun dalam Tradisi Manuskrip Melayu dan Jawa.”

SEMALU IV 2026 diselenggarakan di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor, Malaysia, pada 21 Juli 2026. Seminar ini mengangkat tema “Pelestarian Warisan Manuskrip Alam Melayu Melalui Penyelidikan dan Inovasi” serta mempertemukan cendekiawan, peneliti, akademisi, dan masyarakat umum untuk membahas kekayaan manuskrip dan warisan intelektual alam Melayu.

Melalui penelitian tersebut, ketiga mahasiswa UGM mengkaji dinamika adaptasi sistem numerik Abajadun dalam tradisi manuskrip Melayu dan Jawa, khususnya pada manuskrip Syair Raksi Macam Baru (SRMB) dan Kitab Mujarrabat Pegon (KMP). Kajian ini menyoroti bagaimana sistem numerik yang memberikan nilai angka pada huruf Arab mengalami proses adaptasi, negosiasi, dan pelokalan ketika berinteraksi dengan kebudayaan Melayu dan Jawa.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Abajadun tidak semata-mata sistem penghitungan atau ramalan. Dalam tradisi manuskrip Nusantara, sistem ini berkembang menjadi teknologi kosmologis yang menghubungkan manusia, waktu, alam, dan Tuhan dalam suatu jaringan makna. Melalui penghitungan huruf, nama, hari, dan berbagai unsur lainnya, masyarakat berusaha memahami kemungkinan-kemungkinan masa depan serta menentukan tindakan yang dianggap tepat.

Dalam tradisi Melayu, kajian terhadap Syair Raksi Macam Baru memperlihatkan penggunaan sistem Abajadun untuk membaca kecocokan pasangan melalui penghitungan nama. Sementara itu, Kitab Mujarrabat Pegon menunjukkan perjumpaan antara sistem numerik Abajadun dengan tradisi petungan Jawa, termasuk penggunaan konsep neptu hari dan pasaran untuk berbagai keperluan, seperti menentukan waktu yang dianggap baik untuk berdagang, berobat, dan menikah.

Kajian ini juga menegaskan bahwa manuskrip Melayu dan Jawa juga memproduksi dan menegosiasikan pengetahuan. Sistem angka, huruf, nama, hari, dan nasib dirangkai menjadi mekanisme budaya yang membantu masyarakat memahami ketidakpastian serta mengatur berbagai keputusan dalam kehidupan sosial.

Dengan menggunakan perspektif representasi budaya Stuart Hall dan pendekatan ergodic literature E.J. Aarseth, penelitian tersebut memandang Abajadun sebagai sebuah sistem tanda yang maknanya tidak selalu tersedia secara langsung dalam teks. Pembaca perlu melakukan serangkaian operasi, mulai dari mengonversi huruf menjadi angka, menghitung nilai tertentu, hingga menafsirkan hasilnya. Dalam proses tersebut, pembaca berperan aktif dalam menemukan makna yang terkandung di dalam manuskrip.

“Abajadun menjadi navigator yang mengarahkan pembaca dari huruf menuju angka, dari angka menuju tafsir, dan dari tafsir menuju keputusan sosial,” demikian gagasan utama yang ditawarkan dalam penelitian tersebut.

Keikutsertaan mahasiswa Magister Sastra UGM dalam SEMALU IV 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas kajian terhadap manuskrip Nusantara sekaligus memperlihatkan relevansi warisan pengetahuan tradisional dalam diskursus akademik kontemporer. Penelitian mengenai Abajadun juga menunjukkan bahwa manuskrip Melayu dan Jawa merefleksikan perjumpaan kreatif antara tradisi Islam dan kosmologi lokal yang melahirkan sistem pengetahuan khas di Nusantara.

Melalui forum SEMALU IV, kajian tersebut turut memperkuat upaya pelestarian manuskrip alam Melayu melalui penelitian dan inovasi. Warisan manuskrip tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat dikaji, ditafsirkan, dan diperkenalkan kepada generasi baru.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*