Membaca Lingkungan Melampaui Alam: Pengalaman Lima Mahasiswa Magister Sastra UGM dalam Summer School Asia–Eropa

Bagi sebagian orang, lingkungan mungkin identik dengan hutan, laut, sampah, atau perubahan iklim. Namun bagi lima mahasiswa Program Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), lingkungan juga hadir dalam cerita, ingatan kolektif, mitos, sastra perjalanan, hingga berbagai praktik budaya yang membentuk kehidupan manusia. Perspektif tersebut mereka peroleh melalui International Online Summer School Green Skills in Action: Environmental Challenges in Asia and Europe, sebuah program internasional yang mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan tantangan lingkungan dari perspektif sosial, ekonomi, politik, budaya, dan sastra.

Program ini diselenggarakan oleh Department of Asian Studies, Palacký University Olomouc, Republik Ceko, bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Kegiatan berlangsung secara daring pada 3–5 Juni 2026 dan ditutup dengan presentasi proyek kelompok pada 15 Juni 2026. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, lima mahasiswa Magister Sastra UGM yang berhasil terpilih sebagai peserta, yakni Sofiana Martha, Priyo Joko Purnomo, dan Mulya Irfani dari semester dua, serta M. Erlangga Subekti dan Rini Febriani dari semester satu.

Melalui beragam materi yang disampaikan selama program, peserta diperkenalkan pada cara memahami lingkungan sebagai ruang yang mempertemukan manusia, budaya, pengetahuan, dan relasi kuasa. Perspektif ini membuka pemahaman bahwa berbagai tantangan ekologis tidak dapat dilepaskan dari dimensi sosial dan kultural yang melingkupinya. Bagi mahasiswa sastra, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya merepresentasikan pengalaman manusia, tetapi juga merekam hubungan manusia dengan lingkungan, pengetahuan lokal, serta berbagai perubahan sosial yang menyertainya.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi yang dibagi ke dalam tema Institutional Frameworks, Socio-Political Power, dan Cultural Productions. Dari Universitas Indonesia hadir Prof. Manneke Budiman yang membahas peran pengetahuan lokal dalam menghadapi bencana alam serta Junaidi yang mengulas keberlanjutan sebagai praktik budaya. Dari UGM hadir Rucitarahma Ristiawan yang membahas relasi antara kekuasaan, pariwisata, dan lingkungan, Suhandano yang mengangkat hilangnya pengetahuan ekologis lokal, Ramayda Akmal yang membahas sastra perjalanan Indonesia kontemporer, serta Ashika Paramita yang mengkaji isu keadilan lingkungan dalam narasi superhero.

 Peserta juga memperoleh perspektif global dari sejumlah akademisi internasional dari Eropa seperti Monika Arnez, Freek Colombijn, Natalia Ryzhova, Irene Stengs, Valentina Gamberi, hingga Pierpaolo De Giosa. Melalui berbagai studi kasus yang dibahas, mulai dari pengelolaan sampah di Indonesia, pertanian perkebunan, ritual dan lingkungan, hingga dampak reklamasi pantai terhadap masyarakat pesisir di Malaysia, para peserta diajak memahami bahwa persoalan lingkungan selalu berkaitan dengan kehidupan manusia dan tidak pernah berdiri sebagai persoalan alam semata.

Di luar ruang kuliah virtual, pengalaman yang tak kalah berkesan hadir melalui proyek kelompok internasional. Para peserta dibagi ke dalam beberapa tim yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang keilmuan. Bersama rekan-rekan satu kelompok, mereka mendiskusikan materi yang telah dipelajari, bertukar perspektif mengenai isu lingkungan di negara masing-masing, lalu menyusun presentasi bersama menggunakan platform Microsoft Sway. Kolaborasi tersebut mempertemukan beragam cara pandang terhadap lingkungan, mulai dari pengalaman masyarakat Eropa hingga berbagai persoalan ekologis yang dihadapi komunitas-komunitas lokal di Asia.

Perbedaan zona waktu, jadwal kuliah, serta kesibukan akademik menjadi tantangan tersendiri selama proses kerja kelompok. Namun justru melalui proses itulah para peserta belajar bahwa setiap masyarakat memiliki pengalaman, pengetahuan, dan cara yang berbeda dalam memahami serta merespons persoalan lingkungan.

Erlangga Subekti mengangkat isu perkebunan kelapa sawit di Riau dalam proyek kelompoknya. Melalui tema tersebut, ia melihat bagaimana perubahan lingkungan tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Baginya, summer school ini membuka cara pandang baru bahwa persoalan lingkungan dapat dibaca melalui berbagai narasi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Dari perspektif sastra, menarik melihat bagaimana isu lingkungan tidak hanya hadir dalam data atau kebijakan, tetapi juga dalam cerita dan pengalaman manusia. Kasus perkebunan kelapa sawit di Riau menunjukkan bahwa perubahan lingkungan selalu berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang mengalaminya secara langsung,” tuturnya.

Bagi Rini Febriani, summer school ini menjadi pengalaman berharga di tengah padatnya agenda akhir semester. Meski partisipasi dalam program tersebut dapat dijadikan pengganti Ujian Akhir Semester mata kuliah Naratologi, ia memilih tetap mengikuti seluruh rangkaian summer school sekaligus menyelesaikan tugas akhirnya. Di sela-sela kesibukan tersebut, ia justru memperoleh perspektif baru mengenai isu lingkungan yang selama ini jarang ia temui dalam perkuliahan sastra. Berbagai materi yang disampaikan membuatnya menyadari bahwa persoalan lingkungan sering kali berkaitan erat dengan dinamika sosial, budaya, dan politik, mulai dari dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal hingga hilangnya pengetahuan tradisional dan komodifikasi budaya melalui pariwisata.

Sementara itu, Mulya Irfani memperoleh perspektif baru mengenai peran mitos dalam relasi manusia dan lingkungan. Baginya, salah satu pelajaran yang paling berkesan dari summer school ini adalah cara melihat mitos tidak sekadar sebagai kepercayaan atau takhayul, melainkan sebagai bentuk pengetahuan budaya yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Melalui berbagai materi yang disampaikan, ia memahami bahwa mitos, cerita tentang roh, maupun entitas supranatural dapat berfungsi sebagai narasi ekologis yang membentuk perilaku masyarakat, menyimpan pengetahuan lingkungan, dan membantu menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan ruang hidupnya.

Dalam proyek presentasinya, Priyo Joko Purnomo mengangkat tema From Sacred Landscapes to Sustainable Futures: Lessons from Turgo, Mount Merapi. Melalui proyek tersebut, ia menunjukkan bagaimana keberlanjutan lingkungan tidak selalu lahir dari kebijakan formal atau teknologi modern, tetapi juga tumbuh dari mitos, ruang-ruang sakral, dan relasi masyarakat dengan alam.

“Selama ini kita sering membicarakan keberlanjutan dalam bahasa pembangunan, konservasi, atau teknologi. Namun dari Turgo saya belajar bahwa keberlanjutan juga dapat tumbuh dari cara masyarakat memaknai alam sebagai ruang yang sakral,” jelasnya.

Selanjutnya, Sofiana Martha tertarik pada pembahasan mengenai sastra perjalanan Indonesia kontemporer yang disampaikan oleh Ramayda Akmal. Melalui materi tersebut, ia memahami bahwa lingkungan tidak hanya berupa bentang alam, tetapi juga ruang budaya yang dibentuk oleh interaksi antara alam, tradisi, dan manusia. Dengan mengambil contoh kawasan Dieng, ia melihat bahwa perubahan lingkungan turut memengaruhi cara budaya lokal dipraktikkan, direpresentasikan, dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat maupun pariwisata.

Selama beberapa hari pada awal Juni itu, layar komputer menjadi ruang perjumpaan antara Yogyakarta, Jakarta, Amsterdam, Olomouc, hingga berbagai kota di belahan dunia lainnya. Di ruang yang sama, para peserta berbicara tentang Merapi, masyarakat pesisir Malaysia, pengetahuan lokal, sastra perjalanan, ritual, hingga keadilan lingkungan. Perbedaan latar belakang budaya dan disiplin ilmu tidak menjadi penghalang, melainkan memperkaya cara pandang mereka terhadap persoalan yang dibahas.

Ketika presentasi terakhir berakhir dan ruang Zoom perlahan kosong, mereka kembali pada rutinitas sebagai mahasiswa. Namun ada satu hal yang ikut pulang bersama mereka. Hutan, laut, gunung, sungai, pasir, kota, bahkan cerita-cerita yang selama ini mereka baca tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia. Semuanya menyimpan jejak ingatan, budaya, pengetahuan, dan pengalaman hidup yang saling terhubung.

Barangkali itulah pelajaran paling berharga yang mereka temukan selama summer school ini: menjaga lingkungan bukan semata-mata menjaga alam, melainkan juga menjaga cerita, pengetahuan, dan kehidupan manusia yang tumbuh bersama di dalamnya.

 

Rini Febriani Hauri, Magister Sasrtra

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*